Wisata Kuliner Di Blitar, Masakan Ayam legendaris.
Beberapa waktu lalu, kami rombongan ngikut bapaknya anak-anak lembur di
kantor hari Minggu. Kantornya di Tulungagung. Pulangnya sama suamik di lewatkan
Blitar sambil cari makan siang. Kata suami disana ada masakan ayam enak
masakannya Bu Martumi.
Me: apal jalannya?
Suami : ga.. hahaha.. cari di google map coba
Akhirnya tak cari dengan keyword : MARTUMI. Muncullah Warung tewel mbah
Martumi. Mengikuti jalan atas petunjuk paman google, sampailah kami di kediaman
Mbah Martumi. Sebenarnya beliau buka di pasar depan BRI kalau malam. Tapi
setiap waktu melayani pelanggan di rumah nya yang tidak jauh dari pasar
Ngenthak. Beliau sudah jualan ayam lodeh ini sejak 1958 loh...legendaris khann?
Di rumahnya, hanya ada beberapa meja yang ditata seadanya dan karpet
untuk lesehan di teras depan. Suasananya seperti ini gess
ini dapurnya ..
Menu nya seperti ini juga
Specialnya disini adalah ayam nya. Kalau kataku sih BERKARAKTER. Jadi
masakan ini ga banyak ditemukan di tempat lain. Bahkan kami belum pernah menemukan
menu ayam serupa. Model kuliner beginian walau jauh mesti didatangi karena khas
bangetss.
kenampakan ayam dan lodeh tewelnya
Waktu kami masuk, langsung ditanya “dhahar mriki?” artinya dimakan
disini? Dan kami jawab “iya”
Ga ditanya juga pengennya apa..langsung diambilkan ayam kampung khas
nya 1 ekor, ikan bumbu pedas 1 ekor, lodeh tewel 1 piring. Dan.. nasinya ambil menu itu dihidangkannya di meja padahal kami
demennya lesehan soalnya enak bisa
goler-goler apalagi bawa 2 krucils.
Untungnya customer yang berada di tempat duduk lesehan udah selesai dan
cabut. Akhirnya kami putuskan minta pindah di lesehan. Menu nya sih iya
dipindahkan ke meja lesehan, tapi parahnya itu lo, meja bekas makan customer
yang tadi engga dibersihkan. Yahhh terpaksa kami lap sendiri pake tisu. Ga
apalah kalau makan di rumah juga biasanya sambil liat cucian piring yang
menggunung, mainan berserakan, bantal guling diangkut kemana mana , juga tetep
lahap. Ga ngaruh kali digituin sama
pelayan mbah martumi yang dandan ala alanya. Namanya juga pelayan di desa,
manajeman warung juga masih sederhana.
Kami lanjut makan. Nasinnya biasa. Ga instimewa, ga menul menul. Kayak gini nasinya :
Nah.. yg lagi jalan itu kenampakan ibu ibu pelayan nya...
Disitu
menunya pedes semua yang ga pedes Cuma gorengan tahu tempe dan perkedel. Oke
kami nambah gorengan untuk lauk anak-anak.
Tapi ternyata gorengan pun terasa pedas. Mungkin minyak untuk
menggorengnya, atau apanya lah yang juga kelunturan pedas. Jadilah anak-anak makan lauk gorengan dan
kuah teh botol sosro. Lah makan sesuap minum teh, sesuap lagi minum teh sambil
huh hah huh hah.
ini perkedelnya
Dari segi harga masih standart ya aku bilang. Seekor ayam kampung pedas
mbah Martumi per Juli 2018 adalah 85.000. Total yang harus kami bayarkan untuk
seekor ayam kampung, 3 piring nasi, sepiring lodeh tewel, 3 perkedel 2 tempe
goreng dan 3 teh botol sosro adalah Rp. 125.000`
Karena 1 ayam ga habis berdua, kami minta dibungkus. Jangan lupa minta
tambahan kuah biar mudah dipanaskan ketika di rumah.
Garis Besar
Plus :
-
Spesial Ayam Lodeh Enak
-
Harga masih standart
-
Tidak begitu antri
-
Dilayani jam berapapun di rumah
Minus
-
Nasinya cenderung keras
-
Menunya pedas smua
-
Pelayanan kasih 5 deh dari 10
-
Tempatnya jauh dari kota dan tempat rekreasi di
Blitar
Kalau ditanya pengen kesini lagi? Jawabnya IYA. Ga ngurus lah sama
pelayanan yang jutek. Ayamnya tetep berkarakter....uhuiii









